Catatan Kecil Tentang Dua Kali Gagal LIDM π

Ditulis oleh Nanda Addi Wijaya
Lucu juga kalau diingat-ingat. Saya termasuk orang yang cukup sering bilang βgapapa gagal, yang penting belajar.β Dan ternyata semesta mendengar itu terlalu serius sampai saya dikasih kesempatan gagal LIDM dua kali. Lengkap. Paket hemat.
Percobaan pertama sebenarnya penuh semangat. Tim sudah terbentuk, ide sudah ada, mimpi juga tinggi. Sayangnya, ada satu detail kecil yang agak menarik: sebagian orang di tim ternyata belum benar-benar paham jobdesk masing-masing. Jadi semuanya terasa seperti simulasi kerja kelompok dadakan lima menit sebelum presentasi.
Ada yang harusnya fokus riset malah sibuk jadi motivator. Ada yang bagian teknis hilang seperti file belum di-save. Dan tentu saja, saya ikut tersenyum menikmati proses itu sambil pura-pura yakin semuanya baik-baik saja.
Tapi ya sudahlah. Namanya juga proses belajar katanya.
Lalu datang percobaan kedua.
Nah, yang ini lebih menarik lagi. Secara ide sebenarnya cukup matang. Diskusi panjang, revisi berkali-kali, brainstorming sampai malam, semuanya terasa menjanjikan. Tim juga sudah lebih siap dibanding sebelumnya. Saya sempat berpikir, βWah akhirnya ini mulai masuk akal.β
Ternyata saya lupa satu variabel paling kuat dalam kerja tim: ego manusia.
Kadang ide bagus itu bukan kalah karena kurang bagus, tapi karena terlalu banyak orang ingin jadi pemeran utama. Jadi alih-alih menyusun solusi, energi tim malah habis buat menjaga siapa yang paling ingin didengar. Sangat sinematik sekali.
Ada momen di mana saya sadar bahwa beberapa orang sebenarnya tidak sedang membangun project bersama. Mereka sedang membangun versi diri mereka sendiri yang ingin terlihat paling benar.
Dan lucunya, semua itu tetap dibungkus dengan kalimat:
βIni demi kebaikan tim kok.β
Indah sekali.
Tapi ya mungkin memang begitu dunia kompetisi. Kadang yang mengalahkan ide bukan kurangnya kualitas, melainkan ketidakmampuan manusia menaruh ego sedikit lebih rendah dari tujuan bersama.
Sekarang kalau diingat, saya malah ketawa sendiri. Bukan karena lucu, tapi karena capek kalau harus kesel terus.
Dua kali gagal memang bukan cerita yang keren untuk dipamerkan di LinkedIn. Tapi dari situ saya belajar satu hal penting: skill itu penting, ide juga penting, tapi memilih orang untuk berjalan bareng ternyata jauh lebih penting.
Karena tidak semua orang yang bilang βayo kita menang barengβ benar-benar siap berjalan ke arah yang sama π

Nanda Addi Wijaya
Undergraduate at Universitas Negeri Malang specializing in visual cognitive psychology, professional video post-production, motion design, and high-fidelity React interface code.