Waktu Saya Sharing Soal Konten Kreatif untuk UMKM


Beberapa waktu lalu saya dapat kesempatan lagi buat jadi pemateri di sebuah pelatihan bertema “Creative Content for MSMEs: Cara Mudah Membuat Konten Kreatif bagi Pelaku Usaha UMKM”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh mahasiswa Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang dan dilaksanakan secara online lewat Zoom selama dua hari.
Jujur, topik ini cukup dekat sama keseharian saya. Karena saya memang sering ngelihat banyak UMKM sebenarnya punya produk bagus, tapi kadang kesulitan di bagian visual dan kontennya. Bukan karena produknya jelek, tapi karena mereka belum tahu cara menyampaikan value produknya lewat media sosial.
Dan menurut saya, itu relate banget sama kondisi sekarang.
Kadang orang beli bukan cuma karena produknya, tapi karena cara produk itu “terlihat” di internet.
Di pelatihan ini saya sharing banyak hal yang cukup basic tapi penting banget buat pemula. Mulai dari cara mencari ide konten, menyusun visual supaya lebih menarik, sampai gimana bikin konten yang nggak terasa seperti “jualan terus”.
Saya juga coba ngajelasin kalau bikin konten kreatif itu sebenarnya nggak harus selalu pakai kamera mahal atau editing ribet. Banyak orang terlalu fokus sama gear duluan sampai lupa kalau ide dan cara komunikasi justru lebih penting.
Karena jujur aja, sekarang audience lebih suka konten yang terasa relatable dibanding terlalu “iklan banget”.
Yang saya suka dari pelatihan ini adalah suasananya cukup cair. Banyak peserta yang aktif diskusi dan sharing soal kendala mereka waktu bikin konten UMKM. Ada yang bingung mulai dari mana, ada yang minder karena hasil desain terasa biasa aja, bahkan ada yang bilang:
“Konten saya sepi terus kak 😭”
Dan saya rasa itu hal yang normal.
Karena dunia content creation memang banyak trial-error-nya. Kadang kita bikin konten lama banget, eh yang viral malah video random 10 detik 😭
Di sesi praktik, peserta juga langsung coba bikin konten sendiri dengan arahan dari pemateri dan panitia. Menurut saya bagian ini paling penting, karena belajar konten itu nggak cukup cuma lihat teori. Harus langsung praktik supaya tahu ritme dan proses berpikirnya.
Fun Fact 😭
Ini juga termasuk pengalaman yang bikin saya cukup nervous sebenarnya.
Karena ngomong soal “konten kreatif” itu agak lucu buat saya. Soalnya sebagian besar hal yang saya pelajari selama ini datang dari pengalaman pribadi, trial-error sendiri, revisi client, sampai overthinking lihat insight Instagram tengah malam 😭
Jadi waktu harus menjelaskan proses kreatif ke banyak orang, saya sempat bingung gimana cara menyusun penjelasannya supaya gampang dipahami.
Saya bahkan latihan beberapa kali sebelum acara dimulai.
Mulai dari nyusun flow materi, latihan ngomong biar nggak terlalu cepat, sampai mikir:
“Ini penjelasan saya terlalu ribet nggak ya?”
Tapi ternyata setelah sesi berjalan, suasananya malah jadi seru. Karena peserta juga aktif dan banyak ngobrol santai selama diskusi berlangsung.
Dan dari situ saya sadar kalau sharing pengalaman nyata ternyata jauh lebih nyambung dibanding cuma teori formal.
Karena kadang orang nggak butuh penjelasan yang terlalu akademis. Mereka cuma butuh tahu:
“Mulainya gimana sih?”
Buat saya pribadi, pengalaman ini cukup menyenangkan. Selain bisa sharing soal dunia kreatif dan content creation, saya juga belajar bagaimana menyampaikan pengalaman yang biasanya cuma ada di kepala jadi sesuatu yang bisa dipahami orang lain.
Dan ternyata… itu nggak semudah bikin konten 😭


Nanda Addi Wijaya
Undergraduate at Universitas Negeri Malang specializing in visual cognitive psychology, professional video post-production, motion design, and high-fidelity React interface code.